Pemerintah telah menyusun sebuah blueprint percepatan trasnformasi ekonomi yang perlu didukung dengan berbagai terobosan dan perubahan pola pikir di dalam perumusan strategi dan kebijakan jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang. Perencanaan tersebut diejawantahkan dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).
Masterplan ini mencakup 22 aktifitas ekonomi utama Indonesia dalam 6 koridor ekonomi dan merupakan integrasi dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2002 – 20025.
Pada acara peluncuran MP3EI tersebut dicanangkan Ground Breaking Project di enam koridor yang diwakili oleh empat lokasi yaitu Sei Mangkei (Sumatera Utara), Cilegon (Banten), Lombok Timur (Nusa Tenggara Barat), dan Timika (Papua).
Di Sei Mangke – Sumatera Utara, PT PTPN III akan melaksanakan Proyek Pengembangan Kawasan Industri Kelapa Sawit. Nilai investasi Rp 1,8 Triliun, diharapkan dapat menyerap tenaga kerja sekitar 3.000 tenaga kerja. Kemudian Proyek Pembangunan PLTA Peusangan I dan II di Kota Takengon, Aceh Tengah. Proyek PLTA ini mempunyai total kapasitas terpasang sebesar 88 MegaWatt, didanai pinjaman lunak Japan International Cooperation Agency. Dengan perkiraan biaya sebesar Rp 3,5 Trilliun, ditargetkan selesai 2015.
Tujuan pembangunan PLTA ini adalah untuk mengatasi keterbatasan pasokan listrik, meningkatkan stabilitas beban puncak listrik pada sistem kelistrikan di Aceh, yang terhubung dengan sistem interkoneksi Sumatera, merupakan salah satu upaya PLN mengurangi penggunaan BBM, dan meningkatkan penyediaan energi ramah lingkungan.
Proyek berikut di koridor Sumatera adalah pembangunan“Telkom True Broadband Access National”, membangun 2.423.000 homepass dengan nilai investasi sebesar Rp 4,1 Trilliun. Pembiayaan dari anggaran internal Telkom. Selain di Sumatera, “Telkom True Broadband Access National” dilaksanakan pula di kelima koridor lainnya.
Di Cilegon Banten, MP3EI ditandai dengan Proyek Pembangunan Pabrik Baja senilai Rp 60 Triliun. Saat operasi penuh maka kapasitas produksi akan mencapai 5 juta ton per tahun. Lalu Proyek Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) Jawa Barat. Nilai proyek sekitar Rp 59 Triliun , Proyek Perluasan Pabrik Kendaraan Bermotor PT. Astra Daihatsu Motor dengan investasi Rp. 2,4 Triliun. Target produksi mobil 100.000/th akan selesai pada tahun 2016. Proyek Ground Breaking lainnya adalah Jalan Bebas Hambatan Tanjung Priok seksi E2 dan NS, dimulai pada 2011. Proyek ini dibiayai JBIC, Pemerintah Pusat, Pemda, PT. Angkasa Pura, dan Jasa Marga dengan investasi mencapai Rp. 1,6 Triliun.
Proyek Chemical Grad Alumunium (CGA) di Tayan, Sanggau, Kalimantan Barat akan dilaksanakan oleh PT. Antam dengan perkiraan investasi Rp. 4,3 Triliun, diharapkan selesai pada 2013.
Untuk Lombok Timur (NTB), Proyek Waduk Pandan Duri dengan investasi Rp. 728 Miliar melibatkan Pemerintah Pusat dan Pemda, direncanakan selesai pada tahun 2014. Proyek Pembangunan Bandara Internasional Ngurah Rai sebagai pintu gerbang pariwisata. Nilai proyek Rp.2,05 triliun yang bersumber dari BUMN. Sementara, Proyek Penerbangan Jalur Baru Garuda Indonesia sudah disiapkan untuk melayani pener-bangan dari Makasar ke 13 kota besar di Indonesia Bagian Timur dan Singapura.
Di sektor pertanian, Proyek Bendungan Titab akan dibangun di Desa Ularan, Buleleng, Bali dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat, dengan sumber dana dibiayai oleh APBN dengan perkiraan investasi Rp.481 miliar danakan dimulai pada tahun 2011. Di Timika (Papua) akan dilaksanakan Proyek Jalan Raya Timika – Enarotalisepanjang 269 km, dengan investasi Rp. 900 Miliar yang akan dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Papua, dan Pemerintah Kabupaten Merauke. Proyek Pertambangan dan Pabrik Pengolahan Nikel dan Cobalt dengan Teknologi Hidrometallurgi di Kabupaten Halmahera Tengah dan Halmahera Timur. Proyek ini didanai oleh PT.Weda Bay Nickel sebesar Rp. 50 Triliun.Proyek PLTS Miangas di Sulawesi Utara dengan kapasitas 150 kwh dan Proyek PLTS Sebatik Kalimantan Timur dengan kapasitas 200 kwh dimulai tahun 2011 oleh PT. PLN.
Keseluruhan proyek-proyek tersebut, menuntut adanya tata kelola keuangan yang baik, kesiapan teknologi sebagai pilar inti, dan kematangan SDM khususnya tenaga Insinyur Profesional yang handal – guna merealisasikan program-program utama MP3EI tersebut.